NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  Haniha Ira, Hadia Niwa'öra?
 

Wed, 23 December 2009 08:59:55
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya
Noverlina bernyanyi dengan nada suara naik turun sesukanya dan lafalnya tak jelas. Selesai bernyanyi, ia memeluk ”ibunya”. Meski berusia tiga tahun, ia belum bi ...

Ref: Nugroho F Yudho (Kompas, 22 Desember 2009)

  • 

Ama Rita Zamasi Tetap Mencintai NIAS

  • 

Ir. Boy Olifu Gea di Kebun Tanaman Hiasnya => Click to enlarge!Ir. Boy Olifu Gea Pengusaha Tanaman Hias

  • 

Binahati Baeha, SH dengan Istri, Lenny Trisnadi. => Click to enlarge!Tuhanlah yang Telah Menggariskan Jalan Hidupku

  • 

Riahardy Mendröfa => Click to enlarge!Antara Kampung Halaman, Foto, dan Instalasi

  • 

Kanserina Esthera Dachi => Click to enlarge!Keteguhan Hati Dokter Kanserina Esthera Dachi

  • 

Susanto dan Istri, Hartati Zebua. => Click to enlarge!Susanto, Pelopor Bisnis Restoran Pinggir Pantai di Pulau Nias

  • 

Yacintha Gulö => Click to enlarge!Yacintha Gulö, Putri Mandrehe yang "Merawat Amerika"

  • 

Agus Hardian Mendröfa di salah satu Pojok Miga Beach Hotel => Click to enlarge!Talifusöda Agus Hardian Mendröfa, Mantan Wakil Bupati Nias

  • 

Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA => Click to enlarge!Drs. Fatizanolo Saoiagö, BA, Wakil Bupati Kotabaru

  • 

Dubes RI Piter Taruyu Vau dan Ibu => Click to enlarge!Dari Nias ke Brasil sebagai DUTA BESAR INDONESIA UNTUK BRASIL

  • 

Magdalena Sanora Warnihati Fau => Click to enlarge!Onie Fau dan Kecerdasan Wanita Nias

  Index  

  Last Commented
 
 

Wed, 15 November 2017 03:59:46 | jane | 44 palm street | 197.210.227.49
Suster Klara dan Rumah Inap Kasihnya32 Responses

 

Wed, 08 November 2017 22:19:40 | Angeraigo Laia | Kac,Bawolato | 114.125.37.92
Ferry Jet Jumbo Layani Pelayaran Sibolga-Nias 3 Jam1 Responses

 

Sat, 28 October 2017 13:25:32 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias selatan | 114.125.53.210
Editor Media Online Dipanggil Penyidik Poldasu7 Responses

 

Sat, 28 October 2017 11:31:35 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias Selatan | 114.125.53.148
Pemerintah Bidik Nias Destinasi Andalan Dongkrak Kunjungan Wisman2 Responses

 

Tue, 24 October 2017 08:54:48 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias selatan | 114.125.57.8
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan29 Responses

 

Sun, 15 October 2017 14:41:09 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.Ulunoyo Nias Selatan. | 114.124.237.152
Kenapa Nias Tak Disukai Orang?6 Responses

 

Sun, 01 October 2017 19:29:32 | Hetiaro buulolo | Desa Amorosa kec.ulunoyo nias selatan | 114.124.166.62
Tersangka Kasus Korupsi Nias Water Park Segera Disidang2 Responses

 

2004-10-21 23:12:34
Yupiter Gulö: Kondisi Ekonomi Nias Sekarang Ini, Kalau Bisa Dikatakan Berjalan di Tempat Saja Sudah Bagus
Jakarta (NiasIsland.Com)

Yupiter Gulö => Click to enlarge!Demikian hasil penilaian Pak Piter (panggilan akrabnya) tentang ekonomi Nias. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Nias mengalami kemunduran dalam banyak aspek pembangunan. Yupiter Gulö adalah seorang ekonom yang telah menyelesaikan program S2 di Universitas Trisaksi, dan saat ini sedang mengikuti program S3 dengan fokus pada micro finance bagi masyarakat di pedesaan.

Sebagai seorang ekonom, dan juga seorang yang menduduki jabatan di bidang kerohanian dan berbagai posisi strategis di sektor usaha dan pendidikan -dalam skala nasional dan internasional, tentunya beliau sangat familiar dengan angka-angka. Tidak heran bila ia melihat Nias dari sisi angka-angka. Ia mengungkapkan bahwa memang ada kenaikan Pendapatan Perkapita (PDRB) terus menerus selama 10 tahun terakhir, tetapi angkanya masih di bawah UMR per bulan.

Pada tahun 2002 Pendapatan Perkapita masyarakat Nias sebesar Rp. 3.769.571. Artinya angkanya sekitar Rp. 314.000 per bulan. Perhatikan angka-angka tahun sebelumnya Rp. 3.491.790 pada tahun 2001, Rp. 3.280.518 pada tahun 2000, dan Rp 977.396 pada tahun 1993. Menurut saya angka rata-rata inipun sangat tidak mencerminkan perolehan pendapatan sebagian besar masyarakat Nias , yaitu mendekati 90% masyarakat Nias yang hidup dipedesaan.

Selain angka pendapatan perkapita yang tidak menunjukkan kemajuan malah kemunduran, selama tiga tahun terakhir ini (berdasarkan data yang saya miliki yaitu tahun 2000, 2001 dan 2002), dari 19 Kabupaten di Sumatera Utara, Niaslah yang pendapatan perkapitanya selalu terendah.

Kabupaten Dairi saja, yang di masa lalu jauh terbelakang dibandingkan dengan Nias, pada tahun 2002 angka perkapitanya mencapai Rp. 5.909.065. Itulah ulasan singkat bapak Ama Cynthia Gulö mengenai perkembangan Nias dari sisi pendapatan.

Bapak yang gemar memelihara tanaman ini memiliki Visi: "Memberdayakan ekonomi masyarakat di pedesaan menuju keluarga yang mandiri secara ekonomi".

Berikut adalah hasil wawancara NiasIsland.Com dengan beliau, yang selalu menekankan bahwa PERTANIAN adalah sumber daya alam utama masyarakat Nias.


Sebagai seorang ekonom, bagaimana bapak menilai kondisi ekonomi Nias saat ini?

Memberikan penilaian tentang kondisi ekonomi Nias, pasti tidak sesederhana yang dibayangkan. Oleh karena bersentuhan dengan berbagai aspek atau factor baik kuantitatif maupun kualitatif. Aspek yang kualitatiflah yang biasanya sulit diukur. Tapi, baiklah untuk memenuhi rasa ingin tahu kita sekaligus membuka percakapakan lewat forum ini, saya akan memberanikan diri untuk memberikan penilaian.

Kondisi ekonomi Nias sekarang ini bisa dikatakan "berjalan ditempat saja sudah bagus". Nampaknya Nias mengalami "kemunduran" dalam banyak aspek pembangunan. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi pandang. Pertama, dari sisi angka-angka atau indicator ekonomi yang ada, dan kedua akan dilihat dari apa yang kita lihat dan rasakan langsung bila sedang berada di Nias.

Walaupun pertumbuhan ekonomi Nias tahun 2002 mencapai 3,27% lebih tinggi 0,23% dari tahun 2001 tetapi lebih rendah dari dua dan tiga tahun sebelumnya yaitu 3,73% pada tahun 2000 dan 6,65% pada tahun 1999. Namun angka ini rasanya tidak terlalu menggembirakan bila kita lihat pendapatan perkapita Nias.

Walaupun ada kenaikan Pendapatan Perkapita (PDRB) terus menerus selama 10 tahun terakhir, tetapi angkanya masih dibawah UMR per bulan. Pada tahun 2002 Pendapatan Perkapita masyarakat Nias sebesar Rp. 3.769.571 (Rp. 314.000 per bulan). Perhatikan angka-angka tahun sebelumnya Rp. 3.491.790 pada tahun 2001, Rp. 3.280.518 pada tahun 2000, dan Rp 977.396 pada tahun 1993. Menurut saya angka rata- rata ini pun sangat tidak mencerminkan perolehan pendapatan sebagian besar masyarakat Nias, yaitu sekitar 90% masyarakat Nias yang tinggal dan hidup dipedesaan. (Catatan, pada tahun 2002 penduduk Nias sekitar 702.017 jiwa, dan penduduk kecamatan Gunungsitoli berjumlah 72.775 jiwa)

Selain angka pendapatan perkapita ini tidak menunjukkan kemajuan malah kemunduran bila dibandingkan dengan besarnya pendapatan perkapita masayarakat di kabupaten lain yang ada dalam lingkup Sumatera Utara. Selama tiga tahun terakhir ini (berdasarkan data yang saya miliki), yaitu tahun 2000, 2001 dan 2002 dari 19 Kabupaten dalam Sumatera Utara, Niaslah yang pendapatan perkapitanya selalu terendah. Kabupaten Dairi saja, yang di masa lalu jauh terbelakang dibandingkan Nias, angka perkapitanya sudah mencapai Rp. 5.909.065 pada tahun 2002.

Angka ini menunjukkan bahwa memang ada kenaikkan indikator ekonomi Nias, tetapi daerah-daerah lain jauh lebih besar. Artinya, ya "kemunduran". Kemunduruan ini berarti kesejahteraan masyarakat Nias semakin buruk. Anda juga sebagai pembaca dapat memberikan berbagai contoh hasil pengamatan anda. Sudah barang tentu, mereka yang ada dalam posisi pegawai negeri tentu tidak merasakan ini, tetapi berapa banyaklah mereka yang beruntung menjadi PNS itu.

Mari kita teruskan pengamatan ini. Selama ini, bahkan tiga tahun terakhir (2000, 2001, dan 2002) kontribusi terbesar pendapatan perkapita Nias adalah sekitar 50% dari sektor pertanian, disusul oleh 21,39% dari perdagangan, hotel, dan restoran. Jasa-jasa hanya 7,82%, industri pengolahan bahkan hanya 1,56%, dan yang lain sekitar angka itu juga.

Ini artinya tulang punggung ekonomi Nias adalah pertanian. Sebagian besar masyarakat Nias menggantungkan diri pada pertanian. Tetapi pengolahan pertanian masih dilakukan secar tradisional, belum modern. Artinya, orang bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja dalam setiap periode tanam. Belum memberikan added value bagi mereka. Bagi saya inilah sebetulnya wajah ekonomi Nias. Masih belum berorientasi pada ekonomi pasar, sebagai syarat untuk menuju kemajuan ekonomi daerah yang lebih cepat. Mengapa belum? Karena memang program dan kebijkan pemeri ntah daerah Nias tentang pembagunan ekonomi "tidak jelas". Akibatnya apa, ya begini ini, "berjalan ditempat saja sudah bagus".

Apabila kita teruskan pengamatan, terlebih bila Anda mau melintasi daerah Nias dari Gunungsitoli ke berbagai kecamatan. Apa yang terjadi? Anda pasti "mengrundel". Sulitnya transportasi, walaupun transport yang sederhana pun, telepon apalagi. Warung-warung yang menjual kebutuhan dan berbagai fasilitas lainnya juga sulit ditemukan.

Akibatnya apa? Mobilisasi penduduk sangat rendah, sebagai indikator keterbelakangan. Betul juga, ngapain pergi-pergi, selain serba mahal tetapi toh mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Ini bukti bahwa ekonomi Nias "sangat jauh dari ekonomi pasar" sebagai otak penggerak kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Dan kunci penyelesaiannya ada disitu!



Banyak orang mengatakan bahwa Nias itu KAYA, benarkah?

Terminologi KAYA ini sangat membingungkan. Saya sebetulnya jarang menggunakan term ini. Kata kaya sebetulnya menunjukkan bahwa barang atau produk dan/atau jasa yang tersedia jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan. Bahkan cenderung melimpah, sehingga dikatakan kaya.

Dalam bahasa ekonomi, kekayaan ini dapat dipahami dari faktor ekonomi atau sumberdaya ekonomi yang tersedia di Nias ini seperti apa? Ini harus diidentifikasikan apa saja dan bentuknya apa, sehingga ada yang disebut potensi sumber daya ekonomi Nias. Disebut potensi karena dia belum aktual. Sumber daya ini akan menjadi aktual setelah diolah. Dan disinilah terletak pokok persoalan ekonominya, yaitu bagaimana mengolah itu menjadi aktual dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Nias dan bila perlu dieksport ke luar daerah.

Proses produksilah yang menjadi fokus masalah berikutnya di Nias. Ini menjadi agak kompleks karena menyangkut skill masyarakat Nias itu sendiri.

Saya tidak keberatan kalau dikatakan bahwa Nias memiliki sumber daya ekonomi yang sangat potensial. Sejarah ekonomi Nias telah mencatat ini. Di masa lalu Nias penghasil kelapa, ternak babi, beras, dll. Tetapi dari tahun ketahun menurun, mengapa? Berarti ada yang tidak beres dalam pelaksanaan strategi pembangunan di Nias.

Sebetulnya, Nias beruntung karena dia merupakan pulau tersendiri dengan ciri khas masyarakatnya. Dari sisi ini nampak potensi yang dimaksud. Hanya saja perlu penggarapan secara konkrit. Hal ini memang tidak gampang.


Sebenarnya potensi ekonomi apa yang yang paling tepat dikembangkan di Nias?

Bila dilihat indicator ekonomi yang ada di Nias, maka yang menjadi prioritas perhatian dan pengembangan adalah pertanian. Mengapa? Oleh karena sebagian besar masyarakat Nias menggantungkan hidupnya di sektor pertanian ini.

Dengan mendorong dan meningkatkan sektor pertanian, maka keterbelakangan dapat dikurangi. Jangan tanya saya bagiamana hal ini dibuat, karena pasti ada ahlinya. Tetapi, segera diubah pola pertanian dari hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri menjadi orientasi pasar. Saya sering mengatakan dalam berbagai forum bahwa: "jangan suruh masyarakat menjual telur, kelapa, pisang, beras dst di "harimbale" atau "pasar". Tetapi hai pemerintah, bangun dan siapkan berbagai prasarana bagi masyarakat untuk melakukan itu, sehingga dengan biaya yang murah dan cepat masyarakat bisa ke pasar untuk bertranksasi.

Sektor pertanian harus dibangun secara modern. Kalau sektor ini sudah relatif tertata dengan baik, maka sector lain akan mengikuti.


Bagaimana bapak menilai "mental ekonomi" masyarakat Nias, adakah mayarakat Nias peduli pada kemajuan ekonomi di Nias?

Pada dasarnya orang Nias sangat kuat ikatan kultural dan emosi dengan daerahnya. Dan saya m engamati, hampir setiap orang Nias merindukan kemajuan ekonomi yang lebih baik. Tetapi masalah kita sudah sangat akut. Perubahan di bidang ekonomi tidak dapat dirasakan, karena arah pembangunan yang dilakukan dari Bupati ke Bupati tidak membawa perubahan yang mendasar, seperti yang saya ulas pada point 1 diatas.

Kesan yang sangat kuat dirasakan oleh masyarakat adalah setiap pergantian bupati berarti "kesempatan". Kesempatan untuk diri sendiri dan bukan untuk kemajuan Nias keseluruhan. Kesan ini begitu kuat sampai ke lapisan bawah, sehingga setiap aparat birokrat juga melihatnya sebagai "kesempatan", "mumpung". Kalaupun ada yang peduli, mereka tidak dalam struktur. Malah mereka juga bisa ikut arus bila mereka berkesempatan masuk dalam struktur.

Jadi, kondisinya sudah sangat parah. Itu sebabnya banyak orang NIas yang ketika berada di luar struktur Nias bisa melakukan perubahan yang berarti bagi masyarakat yang dilayani. Bagi saya perubahan ini harus dimulai dari pimpinan daerah Nias, mulai dari orang nomor satu yaitu BUPATI.


Bila disebutkan dalam bahasa ekonomi, kalimat apa yang cocok untuk kondisi ekonomi Nias saat ini?

Bila mengacu pada data-data dan sedikit analisis yang saya kemukakan diatas, ekonomi Nias "terbelakang" dan "miskin". Rasanya ini tidak menggada-ada. Tidak heran bila beberapa waktu yang lalu, dan setahu saya masih demikian, bahwa seluruh desa di Nias adalah masuk kategori IDT. Walaupun banyak orang Nias senang dengan "cap" ini, karena dengan demikian semua desa akan mendapatkan bantuan setiap tahun anggaran.


Sebagai seorang tokoh nasional yang duduk di jajaran PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia), apakah bapak punya visi dan misi ekonomi untuk Nias?

Jelas ada, dan sangat jelas ada. Mungkin bukan hanya saya saja, tetapi tokoh-tokoh Nias lainnya juga ada. Saya harap visi kami sama, yaitu "memberdayakan ekonomi masyarakat di pedesaan menuju keluarga yang mandiri secara ekonomi".

Pemahamannya sangat sederhana, apabila sebagian besar masyarakat Nias maju, maka Nias akan maju. Yang dibuat maju bukan PNS-nya tetapi siapa yang sebagian besar masyakat itu berada. Dan mereka adalah petani di desa-desa. Untuk ini, dibutuhkan strategi, pendekatan, dan policy yang matang untuk menuju pada perubahan ini. Sudah barang tentu, tidak semudah membalik tangan. Mungkin butuh waktu puluhan tahun. Tetapi harus segera dimulai.

Membangun dan menyediakan berbagai prasarana dan sarana bagi masyarakat adalah hal yang utama. Dan bukan asal membangun hari ini dan besok sudah rusak; sediakan hari ini besok sudah hilang. Artinya semua prasarana ini harus ada jaminan bagi kepentingan masyarakat umum. Pada mulanya pasti sulit, karena merubah kebiasaan lama tidak mudah. Puluhan tahun dalam proses pembangunan yang salah arah, tiba2 diluruskan pasti akan sangat sulit. Tetapi demi perubahan, setiap orang harus dituntun oleh pemerintah yang memiliki kewenangan dan kuasa untuk itu.


Apa saja yang bapak kerjakan di PGI, dan apa manfaat PGI bagi di dunia international, nasional, dan lokal khususnya untuk gereja-gereja di Nias?

Saya adalah salah seorang Majelis Pekerja Harian/MPH PGI hasil pemelihan dalam Sidang Raya 13 PGI di Palangkaraya tahun 2000, periode 2000/2005. Dari 13 orang MPH PGI, empat orang diantaranya termasuk saya adalah full timer di samping Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Wakil Sekretaris Umum. Saya dipercayakan untuk duduk pada posisi Wakil Bendahara. Bendaharanya sendiri tidak full timer karena berfungsi melakukan fund rising bagi PGI. Dalam posisi Wakil Bendahara, saya bertanggungjawab terhadap pengelolaan keuangan PGI sehari-hari, dan pengelolaan perbendaharaan PGI termasuk berbagai asset yang dimiliki oleh PGI di seluruh Indonesia, dalam kaitannya dengan hubungan kelembagaan PGI dengan semua lembaga atau yayasan yang ada baik Nasional maupun internasional.

Dalam kapasitas sebagai salah seorang MPH PGI full timer, selain urusan keuangan dan perbendaharaan, saya terlibat secara langsung dan aktif dalam berbagai kegiatan kelembagaan yang sifatnya oikumenis baik diaras nasional maupun internasional.

Seperti kita pahami bersama bahwa, PGI ini adalah salah satu persekutuan gereja-gereja (protestan) yang diakui oleh pemerintah, dan disejajarkan dengan MUI, NU, Mohammadyah. Kalaupun sekarang sudah banyak persekutuan gereja di luar PGI, tetapi itu belum terlalu lama. Pada level internasional PGI juga menjadi mitra gerakan oikumenis, seperti CCA (dewan Gereja Asia), WCC (Dewan Gereja Dunia), dll. Dan sudah barang tentu memiliki hubungan dengan NCC (Dewan Gereja Nasional) di seluruh dunia. Dalam konteks ini, memang kami di MPH PGI yang full timer, termasuk saya, sangat sibuk.

PGI yang didirikan pada tahun 1950, memang dibutuhkan oleh anggotanya. Sekarang ini, PGI memiliki sekitar 80 Gereja di Indonesia (termasuk 4 di Nias, BNKP, AMIN, ONKP, AFY) dan ada sekitar 26 PGI Wilayah se Indonesia. Memiliki mitra kerja sekitar 30 sampai 50 lembaga di Indonesia. Cita-cita pendirian PGI adalah "mewujudkan gereja Kristen yang esa" sering disingkat GKYE. Tapi, sudah barang tentu bukan membuat satu gereja saja di Indonesaia, tetapi keesaan kita adalah dalam pelayanan kepada semua masyarakat. Sebagai persekutuan, sangat dibutuhkan oleh lembaga-lembaga gereja baik di Indonesaia maupun Internasioanl dalam rangka menggalang gerakan oikumens demi kebaikan bagi umat manusia didunia ini.

PGI menjadi fasilitator dalam gerakan oikumene di Nias, mempertemukan anggota-anggotanya untuk duduk bersama bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah maupun dalam memajukan pelayanan gerejawi di Nias, supaya gereja memiliki peran yang nyata di tengah2 masyarakat.

Bagi gereja2 di Nias, PGI dapat dipakai sebagai saluran dan alat komunikasi yang sangat baik, ampuh, dan efektif dalam komunikasi secara nasional maupun secara internasional.


Bolehkah bapak menceritakan tentang keluarga dan kontribusi mereka dalam mendukung karir dan pekerjaan bapak.

Saya memiliki seorang istri dan tiga orang putri. Putri terbesar kelas satu SMP dan terkecil playgroup. Bagi saya keluarga adalah nomor satu. Dan karena mereka, maka saya bisa mencapai hal yang terbaik dalam hidup ini. Bahkan karena mereka juga saya bisa memberikan pelayanan di lingkungan PGI.

Di antara keluarga harus ditumbuhkembangkan rasa saling "bangga" antara anggota keluarga. Saya bangga punya anak ini. Saya bangga punya Papa ini. Saya senang punya Mama yang begini. Sehingga ketika anak-anak mempunyai sebuah kinerja atau prestasi, dia begitu antusias dan bangga menceritakan kepada Papa atau Mamanya, atau kepada Kakak dan Adiknya. Dan kita harus berikan apresiasi yang dibutuhkian tanpa seakan-akan kita bersandiwara.

Mungkin karena saya berlatar belakang pendidikan ekonomi dan manajemen, maka saya senang dengan keteraturan dan kedisiplinan. Anak-anak dan istri cukup mendukung hal ini. Mereka sangat disiplin dalam banyak hal, mulai dari makan, tidur, gosok gigi, dll. Saya pikir ini adalah kondisi-kondisi yang dibutuhkan bagi optimalisasi pengembangan anak-anak dan anggota keluarga.

Istri saya sangat memberikan dukungan penuh. Itu sebabnya, kami bersepakat bahwa anak-anak tidak boleh diasuh oleh pembantu dan orang lain, tetapi harus oleh orangtuanya langsung. Nampaknya hasilnya sangat bagus.

Sebetulnya profesi saya adalah dosen. Di PGI hanya sebagai pelayanan gerejawi. Dan SR 14 PGI Desember 2004 ini akan selesai masa pelayanan kami. Saya akan kembali menekuni profesi sebagai peneliti dan pengajar di beberapa Universitas Swasta di Jakarta , sambil menyelesaikan studi S3 yang sudah mulai dirintis beberapa waktu yang lalu, setelah selesai program S2 di Universitas Trisaksi. Mohon dukungan doa. PUJI TUHAN, YA'AHOWU (Juliman Harefa)


CURRICULUM VITAE

Nama: Yupiter Gulö, SE, MM
Tempat, tanggal lahir: Fadorobahili, Nias, August 01, 1959
Agama: Kristen Protestan
Istri: Anitasia Sitimawarni Hulu, SH
Anak: Cynhtia VSR Gulö, Cecilia NY Gulö, Chelsea Gabriella Gulö
Alamat Rumah: Jalan Bojonegoro Blok B7/2, Kemang Ifi Graha, Jatiasih, Bekasi 17424
Telephone & Fax.: 62-21-821.4822
Handphone: 0812-9265-471
Email Address: jupgulo@cbn.net.id atau jupgulo@telkom.net
Kantor: PGI Jalan Salemba Raya 10 Jakarta
Ph.: 3908118, Fax.: 3150451 Email: pgi@bit.net.id

EDUCATIONAL BACKGROUND (Formal degree)
1) Universitas Trsakti Jakarta, Financial Management, Magister Management (Post Graduate Degree)
2) Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Management, Sarjana (Graduate Degree)
3) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Management, Sarjana Muda (Bachelor Degree);
4) SMA Katolik St. Louis, Surabaya, Jawa Timur.
5) SLTP Kristen BNKP, Gunungsitoli, Nias.
6) SD Negeri Iraonogambo, Mandrehe, Nias

WORK EXPERIENCE
1) 2000 - sekarang
Wakil Bendahara Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH PGI) di Jakarta.
2). 2002 - Sekarang
President Komisaris of Pensiun Fund of Communion of Churches in Indonesia (Dana Pensiun PGI) Jakarta.
2) 2000 - Sekarang
President Commisaris of PT SInar Agape Press, Jakarta.
4) 2001 - Sekarang
Presiden Coomisaris of PT Sitra Express, Jakarta.
5) 1981 - Sekarang
Senior Lecturer of some University in Jakarta: STIE Kampus Ungu Jakarta, STIE Trisakti Jakarta, Economic Fakulty of UKI.
6) 1990 - Sekarang:
As Profesional Consultant in the Reseach Methology in many field, especially Management and/or Financial Management and Economic.
7) 2000 - Sekarang:
Menjadi Pengurus dan/atau komisi/kelompok kerja ( sebagai anggota atau bendahara) di sejumlah Yayasan Gerejawi dilingkungan PGI, antara lain: Yayasan Lembaga Perguruan Tinggi Theologia Jakarta, Yayasan BPK Gunung MUlia, Yayasan Kesehatan PGI Cikini Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, Yayasan Oikumene PGI Jakarta, dan lain-lain.

8) 1994 - 1998:
Bersama dengan seluruh Dana Pensiun Kristen di Indonesia ikut membidani pendirian PT Jisawi Finas, FMC. Kemudian menjadi Fanancial Manager ( 2 year) and Marketing Manager (2 year) at PT Jisawi Finas FMC (Fund Management Company) Jakarta
9) 1984 - 1989:
Menjadi Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
10) 1989 - 1994:
Menjadi Pembantu Dekan I (Akademik) dan Staf Pengajar Tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Djaya Jakarta.
11) 1993 - 1997:
Profesional Consultans pada beberapa perusahaan untuk Design Job, SOP dan Struktur Organisasi Perusahaan.
12) 1986:
Dosen Tamu pada STIE Ottow Geislerr Jayapura, Papua.

TRAINING dan SEMINAR

1980 - Sekarang:
Aktif mengikuti berbagai Training. kursus dan Seminar di bidang keuangan investasi, pasar modal dan pasar uang baik di tingkat nasional maupun internasional. Antara lain, CFA Courses, Fund Manager Training, Capital and Money Market Training.


PUBLICATIONS

1980 - sekrang,
Aktif menulis diberbagai media internal organisasi (bidang akademik) khususnya dibidang ekonomi, manajemen, keuangan, organisasi, penelitian. Menulis sejumlah buku pegangan dibidang Ekonomi, Keuanganan dan Penelitian.

HOBBIES
Membaca, traveling, mendengar music and sport, dan memelihara tanaman.

Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000