NiasIsland.Com Logo

www.NiasIsland.Com
Providing you with some information about Nias Island

  (description not found)
 

Fri, 16 October 2009 13:15:27 | Black imuez | | 202.3.213.130

...

Ref: Cewek akper medan

  Index   Add

  Last Commented
 
 

Sat, 15 June 2019 18:10:15 | QUEEN JAMILLAH | INDONESIA | 192.230.35.67
DPRD: Rencana Konversi Karet di Nias Dipertanyakan183 Responses

 

Fri, 14 June 2019 11:49:38 | Paskah | Depok | 180.244.235.75
Lowongan Magang di Global TV4 Responses

 

Wed, 12 June 2019 20:17:02 | Feri | Cimahi jabar | 115.178.223.126
Free Download MP3 Lagu-lagu Nias2 Responses

 

Wed, 12 June 2019 04:52:02 | Mirable Daniel | jakarta | 165.22.15.85
Peluang Usaha Bersama DT-88 Network10 Responses

 

Sat, 08 June 2019 19:50:08 | Juni Ricardo Simatupang | Griya Milala medan | 114.125.28.227
LOWONGAN KERJA SEBAGAI ROHANIWAN8 Responses

 

Sat, 18 May 2019 11:25:29 | Sitona | TUMORI DESA HILITOBARA SUSUA | 114.125.24.104
TANAH DI JUAL TELUK DALAM NIAS SELATAN4 Responses

 

Sat, 11 May 2019 19:22:11 | Yarman Zebua | Bogor. | 116.206.9.42
SUSUNAN KEPENGURUSAN DPC HIMNI BOGOR13 Responses

 

Sun, 26 August 2007 11:58:03 | Drs. Wa’özisökhi Nazara, M.Hum (IP = 61.5.8.96) | Padang
Beberapa Catatan mengenai Bahasa Nias
Padang (NiasIsland.Com)

Wa'özisökhi Nazara => Click to enlarge! Makalah BEBERAPA CATATAN MENGENAI BAHASA NIAS

Pengantar

Tulisan ini pada awalnya merupakan makalah yang penulis sajikan dalam Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Austronesia IV, yang diselenggarakan di Denpasar tanggal 20-21 Agustus 2007.



1. Pendahuluan

Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Pusat Bahasa di Jakarta (Kompas, 19 Juli 2007), bahasa daerah—yang berjumlah sekitar 746 buah di Indonesia—merupakan kekayaan budaya dan media pengungkapan pola pikir serta perilaku masyarakat. Bahasa menunjukkan bangsa, sejalan dengan hipotesis Whorfian yang menyatakan bahwa bahasa mencerminkan budaya manusia. Walaupun budaya mungkin tidak menentukan struktur bahasa, ia mempengaruhi penggunaan bahasa dan menentukan alasan penggunaan itu. (Wardhaugh 1998: 216)

Satu di antara 746 bahasa daerah di Indonesia adalah bahasa Nias. Bahasa Nias termasuk rumpun bahasa Austronesia (Brown 2001, 2005; Dryer 2005). Bahasa tersebut tergolong bahasa vokalis, berbeda dengan bahasa-bahasa lain di bagian barat wilayah Republik Indonesia. Penutur bahasa Nias berjumlah sekitar 700.000, sebagian besar mendiami pulau Nias, yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera, antara 0º12\' - 1º32\' Lintang Utara dan 97º - 98º Bujur Timur.

Bahasa Nias memiliki beberapa variasi (dialek). Menurut Halaŵa dkk (1985), ada lima variasi bahasa Nias. Akan tetapi, menurut Brown (2001, 2005) dan Laiya (1975), bahasa Nias hanya memiliki tiga variasi utama. Ketiga variasi itu adalah variasi utara, variasi, dan variasi selatan. Variasi utara merupakan variasi yang penggunaannya paling luas. (Hampir) semua penutur variasi tengah dan penutur variasi selatan mampu menggunakan/memahami variasi utara.

Ada beberapa hal mengenai bahasa Nias yang akan dibicarakan dalam tulisan singkat ini: (1) fungsi bahasa Nias sebagai bahasa daerah, (2) beberapa fenomena (seputar penggunaan) bahasa Nias, (3) beberapa faktor berpengaruh terhadap (penggunaan) bahasa Nias, dan (4) beberapa upaya yang mungkin dilakukan untuk bahasa Nias.

2. Fungsi Bahasa Nias

Bahasa daerah memiliki beberapa fungsi: (1) sebagai lambang identitas dan kebanggaan daerah, (2) sebagai alat komunikasi dalam lingkungan keluarga dan masyarakat daerah, (3) sebagai pendukung bahasa nasional, (4) sebagai alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah. (Halim 1983; Nababan 1993; Beratha 1998).

Bahasa daerah sebagai identitas mengungkapkan jatidiri penuturnya. Sebagai alat komunikasi dalam keluarga dan masyarakat, bahasa daerah berperan sebagai media interaksi dan kerjasama bagi sesama warga. Sebagai pendukung bahasa nasional, bahasa daerah berperan penting dalam memperlancar pengajaran bahasa nasional dan berbagai bidang ilmu. Sebagai alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah, bahasa daerah merupakan jendela untuk memasuki ranah budaya. Ia menyimpan tata nilai budaya dalam berbagai bentuk, misalnya kosakata, pantun, cerita rakyat, dan lain-lain (Lauder 2005).

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Nias seharusnya memiliki fungsi-fungsi tersebut di atas. Bahasa Nias tidak saja merupakan bagian, indeks, dan simbol budaya Nias. Bahasa Nias juga merupakan media untuk memenuhi kebutuhan menyampaikan atau menanggapi suatu informasi, baik mengenai masa lampau, mengenai masa kini, maupun mengenai masa depan. Ini sejalan dengan pendapat Grimes (2002), yang menyatakan bahwa bahasa berkembang bersama lingkungan masyarakat dan mencerminkan budaya masyarakat tersebut. Bahasa digunakan untuk menuturkan cerita, menceritakan masa lampau, mengungkapkan rencana masa depan, mengungkapkan sastra (baik lisan maupun tertulis), dan mewariskan cara hidup.

Bahasa Nias masih digunakan sebagai alat komunikasi pada berbagai ranah di desa-desa di Nias, terutama oleh penduduk yang memiliki profil tertentu. Beberapa warga komunitas tertentu asal pulau Nias, yang tinggal di beberapa daerah di luar pulau Nias, terutama di pulau Sumatera dan pulau Jawa juga masih menggunakan bahasa Nias ketika berkomunikasi dengan sesama warga asal pulau Nias. Akan tetapi, ada beberapa fenomena yang mungkin memberi petunjuk bahwa kehidupan bahasa Nias memerlukan lebih banyak perhatian berbagai pihak. Fenomena tersebut akan dibicarakan berikut ini.

3. Beberapa Fenomena (Seputar Penggunaan) Bahasa Nias

Penyusupan bahasa lain ke dalam bahasa Nias merupakan satu gejala yang menarik perhatian penulis. Penyusupan bahasa lain, terutama bahasa Indonesia, ke dalam bahasa Nias tersebut pernah dikeluhkan oleh beberapa tokoh masyarakat Nias pada tahun 1970-an. “Ba da’e göi ufaduhu’ö wa ato ndraonoda si no möi manohugö sekolara misijefo no faruka fachöjö Li Niha ni’oguna’öra!” (Di sini saya menegaskan bahwa banyak anak-anak kita yang melanjutkan sekolah di daerah lain yang bahasa Niasnya bercampur-aduk) keluh P.R. Telaumbanua (satu-satunya penutur bahasa Nias yang pernah menjadi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Utara) dalam buku berjudul Erönu. “Aföchö chöda na lö oroma ba ginötö mifönada li Niha me arachagö fahawu ba fatewu manö li bö’ö,” (Kita prihatin kalau pada waktu yang akan datang bahasa Nias tidak tampak lagi karena sudah dihimpit dan disusupi bahasa lain) kata Samueli Hulu (Kepala SMP Negeri II Onowaembo pada tahun 1970-an).

Sampai sekitar tiga dekade lalu, susupan bahasa lain, terutama bahasa Indonesia, ke dalam bahasa Nias masih sangat terbatas. Susupan dari bahasa dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Nias pada waktu itu masih terbatas pada kosakata, seperti sekolah, buku, meja, dan kursi. Gejala ini sejalan dengan pendapat Schendl (2001) yang menyatakan bahwa kosakata merupakan elemen bahasa yang paling sering menyusup ke dalam bahasa lain. Pepatah di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung—yang sekarang masih digunakan di beberapa daerah—berlaku ketika kosakata bahasa Indonesia disusupkan ke dalam bahasa Nias. Kosakata yang disusupkan mengikuti pola penyukuan bahasa Nias sebagai bahasa vokalis. Misalnya, sekolah menjadi sekola dan kursi menjadi kurusi. Kosakata yang disusupkan itu mengikuti juga kaidah sintaksis bahasa Nias, seperti tampak pada data (1).

(1) a. So gao ba nowi. ‘Ada belalang di ladang’

b. So gurusi ba nomo ‘Ada kursi di rumah’

c. Kurusi ni’öli Döngöni ‘Kursi yang Töngöni beli’

d. I’öli gurusi Töngöni ‘Töngöni beli kursi’

Bahasa Indonesia (dan bahasa lain) juga menyusup ke dalam bahasa Nias melalui nama orang dan nama binatang. Masih banyak (keturunan) orang Nias menggunakan nama keluarga/marga. Akan tetapi, sekarang tidak banyak yang menggunakan nama kecil asli Nias. Sebagian orangtua (muda) Nias menggunakan bahasa Indonesia untuk menamai anak-anaknya. Sebagian menggunakan bahasa Inggris atau nama orang Barat. Sebagian menggunakan bahasa Arab atau nama orang Timur Tengah. Sebagian lagi menggunakan salah bahasa daerah atau nama orang di daerah lain untuk nama anak-anaknya.

Penggunaan bahasa lain sebagai nama orang Nias mungkin dilandasi beberapa pertimbangan. Salah satu di antaranya adalah rasa malu atau enggan. Seperti ditegaskan oleh beberapa orang Nias di http://www.niasisland.com beberapa hari lalu, keengganan (sebagian) orang Nias menggunakan bahasa Nias untuk menamai anak-anaknya merupakan ungkapan di mana seseorang merasa bahwa sesuatu yang bukan dari bahasanya itu lebih baik atau lebih keren.

Ini sangat jauh berbeda dengan nama-nama (keturunan) orang Nias yang lahir sekitar tahun 1970 dan sebelumnya. Pada waktu itu, bahasa Nias digunakan oleh para orangtua (keturunan Nias) untuk menamai anak-anak mereka. Nama-nama yang diberikan pada anak-anak pada umumnya mencerminkan status orangtua anak-anak itu dalam masyarakat. Bahasa menunjukkan bangsa. Nama menunjukkan status keluarga.

Dalam beberapa tahun terakhir, penyusupan bahasa Indonesia (dan beberapa bahasa lain) ke dalam bahasa Nias cenderung menjadi semacam invansi atau “penjajahan” bahasa. “Serangan” bahasa Indonesia terhadap bahasa Nias tidak saja menyangkut kosakata, melainkan juga meliputi elemen-elemen lain. Elemen-elemen lain bahasa Indonesia tersebut tidak lagi mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa Nias. Salah satu hal yang menarik perhatian penulis mengenai penyusupan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Nias tersebut adalah kenyataan bahwa bahasa Indonesia menyusup, bahkan menggeser bahasa Nias, melalui penutur asli bahasa Nias. Ujaran (2) berikut diungkapkan oleh seorang penutur bahasa Nias yang masih tinggal di sebuah desa di pulau Nias, sedangkan ujaran (3) diungkapkan oleh seorang mahasiswa asal pulau Nias yang baru beberapa bulan tinggal di Padang.

(2) Ya’ahowu Pak. U’andö saohagö fefu bantuan Bapak.labantu ndao ira Pastor Franco faoma I.Linda faebua Rp 1.575.000 untuk sekali ini saja. Msh bisa saya ambil KHS DAN KRS hr ini?hr senin baru bssy bayar ke Bank BII. Bgmn nilai sy yg dikonversi hari itu? GBU

(3) Bantu sekedar pulsa ga’a A.wise. agak sulit nda’aga ba kampung sp sibayau a.nidar.

Selain harus menerima penyusupan/penjajahan berbagai elemen bahasa Indonesia, bahasa Nias, khususnya beberapa kosakata, sedang menuju kepunahan. Kosakata yang sedang menuju kepunahan itu pada umumnya adalah kosakata mengenai budaya Nias. Embua dan saiwa ‘sejenis jaring untuk menangkap ikan’ adalah dua contoh kosakata yang sedang menuju kepunahan. Kecenderungan ini, antara lain, disebabkan oleh perubahan budaya/lingkungan.

Gejala lain yang juga menarik perhatian penulis adalah perubahan sikap penutur bahasa Nias terhadap budayanya. Sampai sekitar tiga dekade lalu, penutur bahasa Nias—terutama yang mendiami pulau Nias—masih sangat menjunjung tinggi budaya daerahnya. Pada waktu itu, berbagai upacara adat masih sering diselenggarakan. Walaupun banyak menghabiskan tenaga, biaya, dan waktu, upacara-upacara adat itu jelas merupakan lahan subur bagi bahasa Nias untuk tumbuh dan berkembang. Akan tetapi, sekarang makin sedikit orang Nias menyelenggarakan upacara adat sebagaimana adanya. (Sebagian) orang menganggap penyelenggaraan upacara adat sebagai pemborosan (inefficiency) dan tidak sesuai perkembangan zaman mutakhir (out of date). Bagaimana bahasa Nias bisa tumbuh dan berkembang maksimal kalau lahannya untuk tumbuh dan berkembang makin berkurang?

Kecenderungan sastra lisan Nias menuju kepunahan merupakan hal yang menarik, di samping penyusupan bahasa lain ke dalam bahasa Nias, kecenderungan punahnya kosakata bahasa Nias, dan perubahan sikap penutur bahasa Nias terhadap budaya daerah Nias. Ruang dan waktu bagi tumbuh dan berkembangnya sastra lisan Nias makin terbatas. Upacara-upacara adat yang menggunakan sastra lisan cenderung makin “disederhanakan” dan jarang dilakukan. (Hampir) tidak ada lagi peristiwa berbalas teka-teki atau saling mendongeng dalam bahasa Nias. Akibatnya, tidak saja jumlah penutur sastra lisan makin terbatas. Penguasaan terhadap sastra lisan pun makin terbatas. Pewarisan sastra lisan dari satu generasi ke generasi berikut (hampir) tidak ada. Ini di kalangan orang Nias di pulau Nias. Bagaimana pewarisan sastra lisan dari satu generasi ke generasi berikut di kalangan orang Nias di luar pulau Nias? Belum ada penelitian khusus mengenai ini, tetapi penulis belum melihat adanya orang Nias di daerah di luar pulau Nias yang menguasai (sepenuhnya) sastra lisan Nias, apalagi mewariskannya kepada generasi berikut. Fenomena ini jelas tidak memberi kontribusi positif kepada kehidupan bahasa Nias.

Kehidupan bahasa Nias di kalangan (keturunan) orang Nias yang tinggal di beberapa daerah di luar pulau Nias menunjukkan gejala yang agak berbeda. Sebagai contoh, di antara sekitar 40 “keluarga Nias” di salah satu kompleks perumahan di Padang, penulis belum menemukan suatu keluarga Nias yang warganya sepenuhnya menggunakan bahasa Nias sebagai alat komunikasi satu sama lain.

Pada beberapa keluarga Nias penuh, suami dan istri penutur bahasa Nias menggunakan bahasa Nias bercampur bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah (Minangkabau, Batak, atau Jawa). Akan tetapi mereka menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Minangkabau ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Akibatnya, walaupun kedua orangtua penutur bahasa Nias, anak-anaknya tidak bisa berbahasa Nias, apalagi jika hanya salah satu orangtua merupakan penutur bahasa Nias. Anak-anak (keturunan) Nias di kompleks perumahan itu memang sering menggunakan bahasa daerah. Akan tetapi, bahasa daerah yang mereka gunakan bukan bahasa daerah Nias, melainkan bahasa Minangkabau dan kadangkala dicampurkodekan dengan bahasa Indonesia. Seperti ditegaskan oleh Ramadhani (2006), “etnis Nias yang memilih Ranah Minang sebagai “habitat”nya menggunakan bahasa Minang dalam kehidupan sehari-hari”.

4. Beberapa Faktor Berpengaruh terhadap (Penggunaan) Bahasa Nias

Grimes (2002) mengungkapkan bahwa bahasa tidak hanya berubah tetapi juga bisa bergeser. Pergeseran bahasa (language shift) disebabkan, antara lain, oleh penutur bahasa dan bencana alam atau musibah. Bencana alam atau musibah bisa mengurangi jumlah (atau bahkan memusnah) penutur suatu bahasa. Bencana gempa yang melanda pulau Nias beberapa tahun lalu, misalnya, seketika membuat jumlah penutur bahasa Nias berkurang. Sebagian penutur bahasa Nias yang selamat dari ancaman gempa memilih meninggalkan pulau Nias. Perpindahan penduduk ke daerah di luar wilayah asalnya tersebut jelas bisa menyebabkan pergeseran bahasa Nias. Sebagai pendatang yang minoritas di daerah lain mereka menyesuaikan diri, termasuk dalam hal bahasa. Bisa terjadi bahwa bahasa mereka digeser oleh bahasa daerah setempat yang mayoritas.

Pergeseran bahasa bisa terjadi karena orangtua memaksa anak-anak belajar bahasa bergengsi. Orangtua demikian biasanya cenderung tidak menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan anaknya karena bahasa kedua (dan bahasa asing) dianggap lebih menguntungkan dari sudut ekonomi atau pendidikan. Mereka tidak ingin anaknya dirugikan karena tidak menguasai bahasa kedua dengan baik seperti pengalaman mereka sendiri. Penyebab lainnya adalah kedatangan kelompok bahasa lain ke dalam wilayah suku tertentu, penggunaan bahasa kedua sebagai bahasa pengantar di sekolah, kebijakan bahasa nasional, perpindahan penduduk dari desa ke kota, industrialisasi/moderniasi, perubahan ekonomi dan pemerintahan. (Grimes 2002:3-5)

Kebijakan bahasa nasional merupakan (salah satu) faktor yang berpengaruh terhadap bahasa Nias. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdullah (1999), interaksi bahasa daerah dengan bahasa Indonesia telah terjadi secara intensif sejak awal 1970-an, sejalan dengan kebijakan pemerintah Orde Baru. Dengan alasan persatuan dan kesatuan, bahasa Indonesia digunakan di sekolah-sekolah, kantor-kantor pemerintahan, dan berbagai ruang formal. Bahasa daerah Nias boleh digunakan sebagai bahasa pengantar sampai kelas III di SD, tetapi dukungan dan fasilitas hampir tidak ada. Buku-buku pelajaran (hampir) semua berbahasa Indonesia. Media pembelajaran—kalau ada—semua menggunakan bahasa Indonesia.

Keluarnya Surat Keputusan Kakanwil Depdikbud Provinsi Sumatera Utara Nomor 056/I05/M/94.7 tanggal 4 April 1994 (seharusnya) memberi peluang bagi pelestarian bahasa Nias. Surat keputusan ini mengamanatkan supaya bahasa Nias diajarkan kembali di SD dan SMP di Kabupaten Daerah Tingkat II Nias, sebagai muatan lokal. Dengan masuknya bahasa Nias dalam kurikulum sekolah di SD dan SMP, bahasa Nias seharusnya makin tumbuh subur dan berkembang. Akan tetapi, sampai sekarang penulis belum melihat adanya hasil menggembirakan dari masuknya bahasa Nias ke dalam Kurikulum Muatan Lokal. Capaian yang belum membesarkan hari ini tampaknya disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain sudah dikemukakan di atas. Masalah utama adalah SDM (guru). Tidak ada satu pun guru di Nias yang merupakan lulusan Program Pendidikan Bahasa/Sastra Daerah Nias. Apakah guru yang belum tentu sepenuhnya menguasai bahasa Nias, apalagi yang penggetahuan kebahasaan dan kesastraannya sangat “terbatas”, bisa mengajarkan bahasa Nias secara efektif? Sarana dan prasarana pendukung juga sangat minimal.

Kebijakan pemerintah mengenai perlakuan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah Nias di lingkungan pendidikan formal tersebut di atas menyebabkan bahasa Indonesia berhadapan dengan bahasa daerah Nias. Dengan berbagai dukungan dan fasilitas, harus diakui, bahasa Indonesia mengatasi bahasa daerah yang minim sarana pendukung dan fasilitas. Ini sangat merugikan bagi kehidupan bahasa daerah Nias.

Perkembangan pendidikan, teknologi komunikasi, dan pembangunan sarana transportasi juga berpengaruh terhadap kehidupan bahasa Nias. Kemajuan pendidikan, teknologi komunikasi, dan sarana transportasi telah memungkinkan penutur bahasa Nias berinteraksi dengan dunia luar (daerah, negeri). Bahasa yang digunakan ketika penutur bahasa Nias berinteraksi dengan dunia luar itu umumnya bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bisa terjadi bahwa semakin tinggi frekuensi dan intensitas interaksi penutur bahasa Nias dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing, semakin akrab mereka dengan bahasa Indonesia atau bahasa asing itu. Bisa terjadi pula bahwa, dengan makin akrabnya mereka dengan bahasa lain, mereka makin terasingkan dari bahasa daerah Nias. Perubahan lingkungan dan budaya penutur bahasa Nias bisa berkontribusi terhadap keadaan yang disebutkan terakhir ini.

Menurut Murray (2001), ada tiga kemungkinan yang terjadi bila terjadi kontak intensif penutur satu bahasa dengan bahasa lain. Kemungkinan pertama adalah substratum, adanya pengaruh bahasa yang tidak dominan secara kultural atau politis terhadap bahasa yang dominan secara cultural dan politis. Ini, misalnya, dialami oleh bahasa Inggris Amerika yang meminjam beberapa kosakata bahasa Amerindian. Kemungkinan kedua adalah superstratum, bahasa yang secara cultural dan politis mempengaruhi bahasa yang secara cultural dan politis tidak dominan. Ini, sebagai contoh, terjadi pada bahasa Indonesia yang meminjam beberapa kosakata bahasa Inggris. Kemungkinan ketiga adalah adstratum, adanya situasi di mana tidak ada yang secara cultural atau politis di antara dua bahasa yang penuturnya saling kontak secara intensif. Dalam situasi demikian, kedua bahasa saling mempengaruhi secara berimbang. Fenomena seperti ini, misalnya, terjadi antara bahasa Inggris dan bahasa Perancis di kota Montreal.

Ketiga kemungkinan di atas bisa terjadi setelah ada kontak intensif antara penutur bahasa Nias dengan penutur bahasa Indonesia (dan bahasa daerah lain atau bahasa asing). Pengaruh yang terjadi pun bisa meliputi banyak aspek. Sebagaimana ditegaskan oleh Schendl (2001), “languages…may act upon and influence each other in a wide range of ways: in the adoption of features of pronunciation, the borrowing of words, or the modification of grammar.” Akan tetapi, pada kenyataannya, bahasa Nias lebih cenderung dipengaruhi daripada mempengaruhi. Hal ini disebabkan oleh posisi/status penutur/bahasa Nias, yang umumnya sejalan dengan pernyataan bahwa “Since languages and speakers in contact are rarely of equal political, economic, or social status and power, the less powerful or prestigious group in frequently disadvantaged” (Schendl 2001).

Kepentingan politik atau ekonomi dan status sosial atau kekuasaan mendorong tumbuhnya sikap negatif penutur terhadap bahasa daerahnya. Karena pertimbangan politik dan kepentingan ekonomi, sebagian orang Nias cenderung mengabaikan bahasanya. Demikian juga dengan status sosial atau kekuasaan. Sebagian orang yang memiliki status social atau kekuasaan tertentu cenderung bersikap seolah-olah bukan sebagai penutur bahasa Nias. Sebagian penutur bahasa Nias seolah-olah tidak percaya bahwa “there are no primitive languages” (Victoria and Rodman 1993). Ini berbeda—misalnya—dengan masyarakat Batak Toba—yang menurut Siregar (1999)—sangat loyal kepada bahasa daerahnya dari segi tingkat kekerapan penggunaan bahasa dan ranah penggunaan bahasa daerah, juga berbeda dengan penutur bahasa ‘Bakumpai’—yang tetap setia menggunakan bahasa Bakumpai di mana pun mereka berada meskipun sangat jauh dari kampung halamannya “Masyarakat Bakumpai tidak merasa rendah diri jika menggunakan bahasa ibunya, meski jika sedang berada tengah khalayak luas” (Abdussami dan Syadzali 1999).

Ketidayakinan sebagian orang Nias bahwa tidak ada bahasa primitif cenderung semakin kuat seiring dengan era yang disebut “reformasi”. Pada tahun 1970-an, pulau Nias dan pulau-pulau kecil di sekitarnya hanya terdiri atas satu kabupaten yang teridiri atas 13 kecamatan. Pada akhir tahun 1990-an, kabupaten Nias telah terdiri atas 17 kecamatan (BPS dan BAPPEDA Kab. Nias 2000). Pada tahun 2003 Kabipaten Nias dimekarkan menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan, sedangkan jumlah kecamatan pada tahun 2005 telah menjadi 40 buah. Demikian pula jumlah sekolah; pada tahun 1970-an, jumlah SMP dan SMA di Nias sangat terbatas. Sekarang hampir di setiap desa ada SMP, sedangkan jumlah SMA dan PT—meskipun tidak sebanyak SMP—sudah lebih banyak.

Bertambahnya jumlah kabupaten, kecamatan, dan sekolah berimplikasi pada penggunaan bahasa Nias. Para pejabat/pegawai pemerintahan—baik dari etnis Nias maupun dari etnis lain—pastilah orang-orang yang mampu berbahasa Indonesia, meskipun belum tentu mampu berbahasa Indonesia yang benar. Ini (bisa) menumbuhkan keyakinan bahwa penguasaan dan penggunaan bahasa Indonesia bermakna kekotaan, modern, dan terpelajar/profesional, sedangkan penguasaan dan penggunaan bahasa daerah Nias dianggap trasisional dengan konotasi kuno, terbelakang, kurang terpelajar/kurang profesional. Situasi ini jelas menguntungkan bagi perkembangan bahasa Indonesia, tetapi bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan bahasa daerah Nias.

Perubahan sosial-budaya, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, turut memberi kontribusi terhadap kehidupan bahasa Nias. Karena bahasa merupakan wadah bagi pengungkapan budaya dan aktivitas social maka perubahan social-budaya masyarakat bisa menyebabkan perubahan bahasa. Makin berkurangnya frekuensi penyelenggaraan upacara-upacara adat Nias, misalnya, bisa berpengaruh terhadap frekuensi penggunaan bahasa Nias, khususnya dalam peristiwa upacara adat (resmi). Sebagai contoh, kata löhö yang bermakna wibawa atau tuah (hampir) tidak pernah terdengar dalam 20 tahun terakhir, seiring dengan perubahan sikap (sebagian besar) penutur bahasa Nias terhadap budaya daerah Nias.

Ini sangat berbeda dengan keadaan sekitar 35 tahun lalu. Pada waktu itu orang Nias masih sering menyelenggarakan upacara adat, khususnya untuk meningkatkan atau meneguhkan status adat (bosi= tingkat) seseorang. Dalam upacara adat tersebut, warga yang status adatnya (bosi) rendah tidak berani lewat di depan tokoh yang status adatnya tinggi, apalagi berbicara langsung dalam forum resmi itu. Bila ada yang lewat di depan salawa (pemimpin adat), misalnya, orang spontan berkata: Böi törö da’ö! Alau’ö ba löhö! ‘Jangan lewat di situ! Engkau akan celaka!’

Uraian singkat di atas (diharapkan) menunjukkan bahwa sekarang pertarungan antara tidak seimbang bahasa Nias dengan bahasa Indonesia (dan bahasa asing dan bahasa daerah lain) sedang berlangsung. Bahasa Nias dengan dukungan dan fasilitas sangat terbatas sedang berhadapan dengan bahasa Indonesia dan bahasa lain yang dukungan dan fasilitasnya jauh lebih memadai. Di beberapa “medan tempur” bahasa Nias bagaikan seorang prajurit sedang meregang nyawa, bagai mentari terbenam di ufuk barat di musim hujan. Oleh sebab itu, hampir bisa dipastikan bahwa bahasa Nias, seperti halnya beberapa bahasa daerah lain yang dukungan dan fasilitasnya sangat terbatas, akan menyerah.

Walaupun belum ada penelitian khusus mengenai penggunaan bahasa Nias, patut dicatat bahwa ada gejala yang menunjukkan bahwa kehidupan bahasa Nias semakin terancam. (Anak-anak) orang Nias cenderung belajar menguasai dan menggunakan bahasa Indonesia (dan bahasa daerah lain atau bahasa asing) karena berbagai alasan. Penguasaan dan penggunaan bahasa Indonesia (dan bahasa daerah lain atau asing) itu pada umumnya bukan hanya karena terjalinnya interaksi antara penutur bahasa Nias dengan penutur bahasa Indonesia (atau bahasa lain), terjadinya mobilitas keluar masuk kelompok masyarakat dari dan ke Nias atau daerah tertentu secara permanen, tinggal menetap cukup lama di suatu daerah tertentu dengan bahasa yang berbeda, atau sosialisasi dalam rumah tangga di mana kedua orangtua berasal dari latar social-budaya dan bahasa yang berbeda, sebagaimana dikemukakan oleh Takko (1999), melainkan karena pertimbangan pendidikan dan ekonomi/pekerjaan.

5. Beberapa Upaya yang Mungkin Dilakukan untuk Bahasa Nias

Perubahan bahasa adalah sesuatu normal. Bahasa berubah dari waktu ke waktu. (Daniel 1985). “Language change is neither a progress nor a decay”, kata Aitchison (1985, 1992). Perubahan bahasa bisa terjadi karena faktor internal, tetapi banyak disebabkan oleh faktor ekternal. Faktor eksternal merupakan faktor sangat potensial yang menyebabkan kepunahan bahasa, apalagi bagi bahasa daerah. Bahasa daerah makin terpinggirkan (Kompas 19 Juli 2007). Bahasa daerah banyak yang punah (Singgalang 23 Juli 2007). Bahasa daerah terancam punah (Haluan 3 Agustus 2007).

“Kepunahan bahasa daerah disebabkan adanya kecenderungan penggunaan bahasa Indonesia dalam pendidikan formal maupun dalam kehidupan sehari”, demikian kata Kepala Pusat Bahasa, sebagaimana dimuat di Kompas (19 Juli 2007). Pernyataan yang pada hakikatnya sama muncul dalam Seminar Pengajaran Budaya Alam Minangkabau di Padang beberapa hari lalu: “Kepunahan tersebut disebabkan oleh makin berkurangnya penutur asli dan kecenderungan beralihnya penggunaan bahasa sehari-hari ke bahasa Indonesia serta penggunaan bahasa Indonesia secara intensif dalam pendidikan formal”.

Upaya sistematis, terpadu, dan berlanjut amat diperlukan untuk bahasa Nias. Penelitian komprehensif mengenai bahasa, sastra dan budaya Nias merupakan sesuatu perlu segera dimulai. Melalui penelitian yang komprehensif diharapkan dapat diketahui secara detail dan menyeluruh kehidupan bahasa, sastra, dan budaya Nias. Hasil penelitian komprehensif tersebut diharapkan bisa dibahas dalam suatu forum (Kongres Bahasa Nias I) yang melibatkan berbagai pihak (linguis; budayawa/sastrawan; pejabat dari pusat bahasa, pemerintah daerah, dan dinas pendidikan; tokoh masyarakat dan tokoh agama; guru bahasa dan dosen bahasa/sastra; mahasiswa jurusan bahasa/sastra; dan lain-lain). Kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan penerbitan buku pedoman penggunaan bahasa Nias, kamus bahasa Nias, buku tatabahasa Nias dan sastra Nias, yang komprehensif dan berkualitas.

Penyuluhan, pelatihan, dan perlombaan bahasa, sastra, dan budaya Nias yang melibatkan berbagai lapisan dan golongan dalam masyarakat penutur bahasa Nias perlu juga dilakukan untuk menumbuhkembangkan sikap positif terhadap penguasaan dan penggunaan bahasa Nias, sastra, dan budaya Nias. Di sini media massa (buletin, Koran, majalah, radio, TV, dan lain-lain) bisa berperan aktif. Dukungan media massa, terutama media elektronik, tampaknya bisa efektif karena bisa menjangkau sebagian (besar) warga masyarakat Nias.

Sebagai bagian penting dari upaya untuk pemberdayaan dan revitalisasi penguasaan dan penggunaan bahasa, sastra, dan budaya Nias; pembelajaran bahasa, sastra, dan budaya Nias di sekolah perlu mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Perhatian dan dukungan tersebut terutama dalam hal sumber daya manusia (guru) dan fasilitas/sarana pendukung yang diperlukan. Di sini perguruan tinggi, terutama yang memiliki jurusan/program studi mengenai (pendidikan) bahasa, sastra, dan atau budaya bisa berperan aktif. Memasukkan bahasa, sastra, dan budaya daerah Nias dalam Kurikulum di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Gunungsitoli—sebagaimana sudah beberapa kali penulis kemukakan kepada beberapa pejabat penting dan berwenang di Nias—adalah sebagian dari peran aktif dimaksud.

6. Penutup

“Bertahannya bahasa daerah sangat tergantung dari bertahannya masyarakat bahasa itu”, kata Steinhauer (1999). Kehidupan bahasa Nias berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat Nias. Oleh sebab itu, pemberdayaan dan revitalisasi bahasa Nias harus diiringi dengan pemberdayaan dan revitalisasi masyarakat (adat) Nias. Upaya sistematis, terpadu, dan berlanjut untuk memberdayakan dan merevitalisasi bahasa, sastra, budaya Nias perlu segera dilakukan dan hanya akan berhasil guna jika memperoleh perhatian, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak: keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. 1999. ‘Bahasa Daerah Menjelang Abad ke-21’. Dalam Dr. Irwan Abdulah (ed.), Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21, hal. 1-31. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdussami, Humaidy dan Syadzali, Ahmad. 1999. ‘Penggunaan Bahasa ‘Bakumpai’ di Kalimantan’. Dalam Dr. Irwan Abdulah (ed.), Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21, hal. 205-225. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Aitchison, Jean. 1992. Linguistics (4th ed.). London: Hodder & Stoughton.

Aitchison, Jean. 1985. ‘Language Change: Progress or Decay?’, dalam Virginia P. Clark, Paul A. Eschholz, dan Alfred F. Rosa (ed.), Language: Introductory Readings (4th ed), hal 612-629. New York: St. Martin’s Press.

Arimi, Sailal. 1999. ‘Bahasa Batak Angkola-Mandailing di Tapanuli Selatan dan Mandailing-Natal’, dalam Dr. Irwan Abdulah (ed.), Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21, hal. 55-69. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Artawa, Ketut. 1998. ‘Bahasa Bali: Tantangan dan Peluang Menuju Konstelasi Linguistik Internasional’, dalam I Made Purwa dkk. (ed.), Kongres Bahasa Bali IV, hal. 323-340. Denpasar: Balai Penelitian Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bali Post, 25 Februari 2006 (Guru dan Nasib Bahasa Bali; Bahasa Bali Lestari Jika Adat-Istiadat Masih Hidup; Tinggal Satu Generasi)

Beratha. Ni Luh Sujtiati. 1998. ‘Beberapa Pemikiran tentang Pemantapan Kedwibahasaan Masyarakat Bali di Bali’, dalam I Made Purwa dkk. (ed.), Kongres Bahasa Bali IV, hal. 73-97. Denpasar: Balai Penelitian Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

BPS dan BAPPEDA Kabupaten Nias. 2000. Nias dalam Angka Tahun 1998

BPS dan BAPPEDA Kabupaten Nias. 2006. Kabupaten Nias dalam Angka 2005.

Brown, Lean. 2001. ‘A Grammar of Nias Selatan’, disertasi University of Sydney.

Brown, Lean. 2005. ‘Nias’, dalam Adelaar, Alexander, dan Himmelmann, Nicolas P., editor. The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. London and New York: Routledge. Hal. 562-589.

Cook, Guy. 2003. Applied Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Daniels, Harvey A. 1985. ‘Nine Ideas about Language’, dalam Virginia P. Clark, Paul A. Eschholz, Alfred F. Rosa (ed.), Language: Introductory readings, hal. 18-42New York: St. Martin’s Press.

Djunaidi, Abdul. 1999. ‘Bahasa Aceh Sebagai Identitas Sosial’. Dalam Dr. Irwan Abdulah (ed.), Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21, hal. 32-54. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Djunaidi, Abdul. 1999. ‘Bahasa Aceh’. Dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Panorama Bahasa Nusantara, hal. 137-186. Jakarta: Referensia.

Fromkin, Victoria and Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language (5th ed.). New York: Holt, Ronehart and Winston, Inc.

Grimes, Barbara F. 2002. ‘Kecenderungan Bahasa untuk Hidup atau Mati secara Global (Global Language Viability): Sebab, Gejala, dan Pemulihan untuk Bahasa-bahasa yang Terancam Punah’, dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.), PELBA 15, hal. 1-39. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Halawa, T., A. Harefa, dan M. Silitonga. 1983. Struktur Bahasa Nias. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Haluan, 3 Agustus 2007 (Bahasa Daerah Terancam Punah)

Hardjadibrata, Rabin. 1999. ‘Bahasa Sunda Jawa Barat’. Dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Panorama Bahasa Nusantara, hal. 103-136. Jakarta: Referensia.

Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman Group UK Limited.

http://www.niasisland.com

Kompas, 19 Juli 2007 (Bahasa Daerah Makin Terpinggirkan; Galang Citra Indonesia Lewat Pengajaran BIPA)

Lauder, Multamia RMT. 2005. ‘Pelacakan Bahasa Minoritas dan Dinamika Multikultural’, Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Pustaka, Volume V, No.10, hal.150-173.

Matthews, P.H. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Mbete, Aron Meko. 2007. Bahasa Ibu: Problematika Fungsi, Kondisi, dan Ancangan Revitalisasinya. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Bahasa Ibu, Program Magister dan Doktor Linguistik Universitas Udayana, Denpasar

Murray, Robert W. 2001. ‘Historical Linguistics: The of Language Change’, dalam William O’Grady, John Archibald, Mark Aronoff, dan Janie Rees-Miller, An Introduction to Contemporary Linguistics, hal. 289-346. Boston: Bedford/St. Martin’s.

P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 2004. ‘Lingua Nias’, dalam Media Warisan Edisi No. 38-39 Tahun IV April 2004

Pampe, Pius. 2005. ‘Penderitaan Bahasa: Kajian Awal tentang Penyusutan Fungsi Religius Bahasa-bahasa Lokal Minoritas di Kabipaten Manggarai’, Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Pustaka, Volume V, No.10, hal.174-189.

Ramadhani. 2006. Ikhwal Ketaktunggalan dalam Bahasa Minangkabau. Padang: Andalas University Press.

Schendl, Herbert. 2001. Historical Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Singgalangg, 23 Juli 2007 (Bahasa Daerah Banyak yang Punah)

Siregar, Bahren Umar. 1999. ‘Bahasa Batak Toba: Suatu Tinjauan Ringkas’, dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Panorama Bahasa Nusantara, hal. 45-70. Jakarta: Referensia.

Steinhauer, Hein. 1999. ‘Bahasa Blagar Selayang Pandang’, dalam Bambang Kaswanti Purwo (ed.), Panorama Bahasa Nusantara, hal. 71-102. Jakarta: Referensia.

Suastra, I Made. 2005. ‘Menjawab Kekhawatiran Penutur akan Perubahan Bahasa’, Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Pustaka, Volume V, No.10, hal.190-201.

Sutjaja, I Gusti Made. 2003. Teks dan Cerita Rakyat: Tinjauan dari Sudut Fungsi Bersistem. LOTUS Widya Suari.

Takko, A.B. 1999. ‘Penggunaan Bahasa Daerah di Sulawesi Selatan’, dalam Dr. Irwan Abdulah (ed.), Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21, hal. 248-265. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardaugh, Ronald. 1998. An Introduction to Sociolinguistics(3rd ed.). Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd



* Drs. Wa’özisökhi Nazara, M.Hum. adalah Dosen/Pembantu-Ketua I di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Prayoga Padang, sejak Juli 2005 mengikuti Program S3 Linguistik atas biasa BPPS dari DIKTI Departemen Pendidikan Nasional.

First|Previous    Next|Last

Pick Date
No Resp-Time Resp-by Address Email IP
1. Fri, 09 April 2010 11:22:53 Agnes Ndraha nias agnesndraha@rocketmail.com 115.69.217.114
saya senang membaca tulisan bapak, semoga dapat ditingkatkatkan dan lebih kreatif lagi demi kemajuan daerah kita Nias.
saya ingin bertanya, apakah cerita rakyat Nias seperti : Lawomaru dan Sidele i'a dan lain sebagainya itu mempunyai alamat situs??
saya ingin mengetahui banyak tentang Nias. Terimakasih, GBU.
2. Sat, 16 October 2010 19:02:39 Arnius Medan,jl pahlawan no 31 atanoniha@yahoo.com 118.96.35.15
saya minta semua arti bahasa Nias ditampilkan
3. Sat, 16 October 2010 19:05:57 Arnius Medan,jl pahlawan no 31 atanoniha@yahoo.com 118.96.35.15
Saya berdo'a kepada Tuhan Yesus supaya pulau Nias bisa maju karena pulau Nias adalah tanah kelahiran saya, walaupun saya sekarang sudah lama merantau(sejak 2005) tetapi saya tetap mencintai Nias
4. Mon, 29 November 2010 23:14:09 christine jl.cendrawasih blok d81 no 10 christinenataliadias@rocketmai 223.255.224.10
aku bukan berasa dari nias,,namun aku belajar untuk mempelajari kepulauan nias..karena aku ingin dapet calon suami orang nias..walau sudah ada calonnya namun aku ingin mengetahui kampung halaman calon suamiku...heehehehe
marga calon suamiku ialah gea...ckckckckckk
5. Tue, 01 March 2011 17:58:24 citra laoli jln pancing medan citraarniathylaoli@yahoo.com 125.162.37.139
keren dao pak....
smangat mano untuk tano niha....!!!!
6. Sat, 10 November 2012 09:44:00 Ifotani mendrofa Onohada lalai thanymendrofa@yahoo.co.id 70.39.185.83
Da'a ni'andoda saoha golo ba jamatoro ya'ita walabe'e lala wangera-ngera sisokhi ba dano niha terbentuk 4 kabupaten dan 1 wali kota, tano niha omasio
7. Sat, 10 November 2012 10:00:36 Ifotani mendrofa Onohada lalai thanymendrofa@yahoo.co.id 70.39.185.83
ya'ahowu fefu.....
8. Sun, 03 February 2013 13:35:51 Ely Darman Zendratö Sidempuan ely.zendratö@facebook.com 141.0.9.188
Ya'ahowu fefu !

Semoga bahas Nias maupun pulau Nias dikenal oleh masyarakat Dunia.

I LOVE NIAS ISLAND.
9. Sun, 03 February 2013 13:43:41 ELY DARMAN ZENDRATÖ Sidempuan Ely.darman@facebook.com 141.0.9.188
Saya berharap agar pulau Nias maju dalam waktu singkat.

Böi olifu ita mbanua da.
He göi ita zi tumbu ba danö wekoli he göi ba danö nikha.

YA'AHOWU.....


From : Ely Darman Zendratö & Kawan-kawan.
1. Tue, 30 November 2010 03:25:00 bocila jakarta bocilambatu@yahoo.co.id 114.127.246.69
Trimakasih atas tulisan bapak, ono niha berharap tulisan bapak Nazara muncul lagi memberi pencerahan yang selama ini terselubung di mata,hati,pikiran ononiha yang hidup dijaman milenium.
2. Wed, 01 December 2010 23:32:46 Ono Niha Jakarta ono_niha@rocketmail.com 202.70.54.151
U'andro saohagolo Pak Nazara., no obe'e khoda ngera-ngera si sokhi bawamasugi ba dododa eluaha woguna'o li niha ba ginoto da'a. So sambua gera-eragu ena'o natolo so sangehaogo sambua website zi sanandrosa bawamaha-maha'o li niha ba ndraono sihona ebua ba gini da'a. Ya'ahowu!
3. Thu, 16 December 2010 23:18:39 Drs. W. Nazara, M.Hum. Padang Nazara_2010@yahoo.com 61.5.2.69
Ya'ahowu. Omuso dödögu me so niha somasi ena'ö tedou ba tumbu li Niha. u'andrö wa'ebolo dödö me lö oya zi no usura, me oya daha-taha ba so'amböta. Sökhi na so zomasi mamalua si sökhi, ta'andrö saohagölö. Na tola, omasido u'ila gambara gera'era nifaehagö ba numero 2 andre. (Kalau boleh, saya ingin tahu gambaran usulan respon nomor 2 ini, mengenai wibsite berkaitan dengan pembelajaran bahasa Nias).

Saya brmaksud menerbitkan menjadi buku tulisan BEBERAPA CATATAN MENGENAI BAHASA NIAS di atas bersama beberapa tulisan lain saya mengenai bahasa Nias, tetapi saya belum tahu apakah ada yang mau membantu, terutama mengenai pembiayaannya.

Salam dan doa, semoga bahasa dan budaya Nias lestari

W. Nazara
4. Mon, 12 November 2012 12:57:09 Drs. Teheziduhu Lawolo Pekanbaru - Riau lawolo61@yahoo.com 125.165.101.192
Saya sangat setuju dan sekali gus mendukung usaha dari bapak/ibu saudara yang mau dan serius mendata dan menata pemakaian bahasa Nias yang sesungguhnya. beberapa waktu yang lalu karena rindu, saya beli kamus li Niha (karena saya mau belajar bahasa nias yang benar), ternyata tenga li niha sindruhu-ndruhu Li Niha, tetapi sebagian sudah dicampur dengan bahasa indonesia, dan ada lagi yang diterjemahkan langsung dari bahasa indonesia .
Saran saya : fatua so ndra satuada sindruhu-ndruhu mangiila mangogunao Li Niha satulo, sangat baik untuk meminta arahan dari mereka dan langsung diterbitkan dalam bentuk :
1. Amaedola (dulu saya pernah memiliki buku " ERI & ERONU " )
2. Kamus Li Niha lengkap (bisa dari berbagai variasi dialeg)
3. Susunan adat-istiadat (afore)
walaupun sesungguhnya hal ini berbiaya tinggi, akan tetapi demi masa depan anak-anak kita dalam memelihara kebudayaan " Ono Niha " saya yakin Pemda akan berbagi untuk memenuhi biaya penerbitan buku-buku tersebu.
Tidak lupa kami berterima kasih kepada bapak Drs. W. Nazara, M.Hum dari Padang atas ide dan harapnnya untuk memelihara kebudayaan kita " NIAS", saohagolo-Ya'ahowu (ama sarah lawolo)
5. Mon, 04 February 2013 10:20:08 Kesatuan Mahasiswa NISEL Jakarta Jakarta Selatan Nias_Rayamerdeka@yahoo.com 114.79.3.145
Datafaoma tarorogo budaya dan ciri khas bahasa ibu ba dano niha, yafaoma itolo ita Soaya, Ya'ahowu...!!!
6. Tue, 05 February 2013 11:21:39 hzagoto Depok hzagoto@lovenias.com 203.99.104.218
Salah satu penyebab berkurangnya penuturan bahasa Nias dalam percakapan sehari hari adalahkarena pengaruh pendidikan (sekolah) umumnya guru-guru dalam berdialog dengan guru-gurunya menggunakan bahasa indonesia baik itu didalam lokal kelas mengajar maupun diluar kelas saat jam-jam istirahat bagi murid-muridnya dan ini berlaku mulai dari TK sampai pada perguruan tinggi. Pengaruh paling besar adalah pada murid-murid TK dan SD yang baru memulai belajal sudah disuguhi bahasa indonesia yang akibatnya terbawa sampai dewasa ditambah lagi percakapan sehari-hari antara orang tua dan anak yang tidak menggunakan bahasa ibu. Sebaiknya disarankan bagi guru-guru untuk menggunakan basa ibu dalam percakapan diluar kelas. Yang kedua karena pengaruh teknologi ada banyak alat alat rumah tangga yang saat ini mudah digantikan dengan produksi teknologi yang mudah didapat misalnya kata "haru" (sendok nasi)diganti dengan kata sendo wakhe atau "halu" (alu untuk menumbuk padi) satu hari nanti kata ini akan hilang dari perbendaharaan kata Nias karena fungsinya telah digantikan teknogi.
7. Thu, 07 February 2013 06:18:08 Bambowo Laiya Telukdalam Nias Sealtan bambowo_laiya@yahoo.com 36.76.115.187
Sekedar informasi bahwa untuk menjaga supaya Bahasa Daerah Nias tidak segera punah ada sebuah upaya yang sedang dilakukan oleh sekelompok orang terpelajar di Telukdalamn saat ini yakni pelestarian Bahasa Daerah Nias Selatan melalui " Yapelbanis " Yayasan Pelestarian Bahasa Nias Selatan. Upaya ini sedang mengerjakan penyusunan buku Kamus Bahasa Nias Selatan, buku Sastra Lisan Nias Selatan, buku Tata Bahasa Nias Selatan dan merintis penterjemahan Alkitab kedalam Bahasa Nias Selatan. Kontak point adalah Pdt. Famakhoi Wau, MRE No hp 081362252515 dan Pdt. Bambowo Laiya S.Th., MA dgn No Hp 081362249954. Terima kasih, Ya'ahowu !

First|Previous    Next|Last

Number of records = 16
Response:
Your Name:
City or Home Address:
Email:

Responlah dengan sopan, tidak kasar, tidak merusak nama baik pihak lain, bukan fitnah, atau tidak bersifat ancaman maupun caci-maki.

Hindari menanggapi topik / respon yang tidak layak atau tidak pantas sehingga tujuan si pembuat topik / respon tidak tercapai.

Hindari menggunakan nama samaran yang mengacu pada nama atau identitas orang lain.

©2000-2008 NiasIsland.Com. All rights reserved.

The first version was launched on 9 Sept 2000